Toxic Positivity : Saat Kata-kata Positif Berdampak Negatif

Setiap orang pasti pernah merasakan kesedihan atau kekecewaan dalam hidup. Dan itu adalah hal yang normal.

Dok : Bbc.com

Tidak pernah ada, rasa yang bisa bertahan selamanya . Entah itu sedih, bahagia, kecewa, marah. Semua rasa itu pasti akan datang silih berganti dalam waktu yang berbeda atau bahkan bisa saja datang secara bersamaan.

Menurut Psikolog, semua perasaan tersebut mempunyai fungsinya masing-masing. Sehingga kita tidak perlu menyangkal saat perasaan itu hadir.

Misalnya, saat kita merasa kecewa dengan keadaan dihidup kita. Maka akuilah rasa itu, jangan pernah menutupi rasa kecewa dengan sebuah senyuman seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Karena jika kamu melakukan hal tersebut, maka lama-lama pasti kamu akan merasa tertekan dengan sendirinya. Ada sebuah istilah toxic positvity, yaitu sebuah istilah yang mengacu pada situasi dimana seseorang selalu mendorong orang lain yang sedang merasakan kegundahan atau kegalauan untuk selalu melihat sisi positif dari keadaan yang sedang dialami. Tanpa memberi kesempatan untuk mengakui dan meluapkan semua rasa tersebut.

Dilansir dari laman roomper, menurut Jennifer Howard Ph.D, nasihat untuk selalu berpikir positif atau membaca buku motivasi yang menyuruh untuk selalu berpikir positif setiap saat justru akan membuat seseorang merasa takut, sedih, sakit, bahkan merasa gagal menjalani hidup.

Karena, terus mencoba berpikir positif tanpa melihat dan mengakui keadaan yang sebenernya terjadi malah bisa menjadi racun dan terasa begitu palsu.

Saat seseorang merasa sedih atau tertimpa suatu masalah, tentu saja ia membutuhkan penyemangat.Namun yang benar-benar dibutuhkan adalah bentuk dari rasa empati, bukan sekedar kata toxic positivity.

Contohnya, saat ada seseorang yang bercerita tentang kegagalannya, sebenernya yang lebih dibutuhkannya adalah sebuah pelukan dan bentuk dukungan nyata dari kita. Bukan hanya sekedar kata “semangat yaa, semua pasti akan berlalu”

Sisi gelap toxic positivity yang langsung disampaikan atau diinternalisasi oleh orang bermasalah juga tercatat dalam tulisan Wood, dkk. yang dimuat di jurnal Psychological Science (2009). Para peneliti itu menemukan bahwa kata-kata positif yang ditujukan kepada responden berpenilaian diri rendah justru membawa dampak negatif.

 

Crosswalk.com

Menolak Kejujuran

Toxic positivity menunjukan positivity yang tidak realistis. Sebab, seseorang yang mengakui dan menunjukan emosi dianggap sebagai orang yang lemah.

Jika hal itu terjadi maka, akan ada banyak orang yang merasa takut untuk jujur dalam mengakui apa yang sedang dirasakan. Dan mencoba untuk selalu bersikap positif walaupun itu semua palsu.

Hal seperti itu banyak terjadi di lingkungan kita. Mulai dari keluarga, sekolah, pekerjaan atau kelompok lainnya.

Ketika seseorang mendapat tuntutan untuk selalu menunjukan sisi positifnya, maka ia akan lebih sulit mengakui tentang apa yang dirasakan, karena takut mendapatkan judgement dan merasa tidak diakui jika harus menunjukan sisi lemah dari dirinya.

Akhirnya banyak orang yang tidak sadar bahwa dirinya sedang bermasalah karena selalu menganggap bahwa semua baik-baik saja.

Jika sudah seperti itu maka bagaimana masalah bisa diselesaikan? Sedangkan untuk menyelesaikan suatu masalah, hal pertama yang harus dilakukan adalah jujur dengan apa yang terjadi.

Membuat suatu hubungan menjadi berjarak.

Tidak hanya membuat seseorang menjadi takut untuk jujur, tapi toxic positivity juga bisa membuat kita dijauhi oleh orang yang sebelumnya dekat dengan kita. Entah karena alasan tidak nyaman atau bisa jadi sudah malas dengan toxic positivity yang kita sebarkan.

Bagaimana tidak, jika orang terdekat kita sedang merasa lelah atau sedih tapi malah disuruh untuk tetap ceria atau seolah seperti tidak ada masalah. Please deh yaa, itu malesin banget

Karena kunci dari sebuah hubungan adalah ketulusan dan sikap saling memahami serta menerima satu sama lain, tanpa menghakimi apa yang sedang terjadi.

Saat kita terus mendorong orang lain untuk terus berfikir positif sama saja seperti kita tidak mampu menerima mereka apa adanya dong?

Tidak Mengakui Emosi Negatif.

Emosi negatif seperti perasaan marah, sedih, kecewa adalah sebuah rasa yang sangat normal. Tapi toxic positivity tidak mengakui akan hal itu.

Jika ada seseorang yang mengatakan bahwa kamu tidak boleh bersedih atau kecewa, maka ia sedang menyebarkan toxic positivity.

Padahal memiliki emosi negatif bukanlah sebuah masalah besar. Malah aneh jika seseorang tidak pernah menunjukan emosi negatifnya. (itu manusia atau patung? Hikshiks)

Akan mencari pelarian dalam hal yang lain.

Dengan terus menekan perasaan negatif yang dimiliki, tidak serta merta membuat semua perasaan tersebut menghilang dengan sendirinya.

Malah biasanya membuat kita ingin melampiaskan ke hal-hal yang lain. Entah bermain game, belanja, atau ada yang berubah menjadi lebih sensitif . Sedikit-dikit marah,tanpa alasan yang begitu jelas.

Toxic positivity sangat berbeda dengan rasa bahagia yang sesungguhnya, karena dengan toxic positivity cenderung membuat seseorang memendam banyak hal demi terlihat bahagia.

Selalu ingin naik banding saat mengetahui keadaan orang lain. Biasanya, seseorang yang bisa jujur dengan perasaannya akan lebih bisa berempati dengan keadaan orang lain.

Sangat berbeda dengan seseorang yang suka menyebarkan toxic positivity. Ia akan selalu membandingkan masalah yang dimiliki orang lain dengan masalah yang ada dalam hidupnya.

Misalnya, saat ada orang yang menceritakan masalahnya. Bukannya berempati, ia malah berkomentar seakan masalah tersebut adalah hal yang sepele dan itu sudah pernah ia lewati sebelumnya.

Padahal kapasitas seseorang dalam menghadapi masalah sudah jelas berbeda. Dan tidak seharusnya kita menjudge orang lain hanya karena perasaan yang sedang mereka alami.

Toxic Positivity bukanlah hal yang nyata.

Toxic Positivity adalah hal yang tidak nyata dan sulit diterima. Bagaimana mungkin seseorang bisa selalu terlihat positif.

Dalam hidup pasti akan selalu ada fase up and down. Menyemangati diri dan optimis terhadap keadaan memang perlu, tapi tidak harus dengan cara membohongi diri sendiri dan hidup dalam kepalsuan.

Terus membohongi diri dengan rasa yang tidak nyata adalah hal yang paling melelahkan. Jujur dengan diri sendiri memang yang sulit, tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Lebih baik merasa lelah karena mencoba jujur daripada lelah karena kepalsuan ya guys.

**

Jadi itulah sedikit pembahasan tentang toxic positivity. Mungkin masih banyak orang-orang di Indonesia yang tidak mengetahui tentang hal ini. Nah, jadi mulai sekarang belajar yuuk untuk lebih mengenal tentang rasa. Belajar untuk mengakui setiap rasa yang hadir dalam hidup kita. Bahagia, sedih, marah ataupun kecewa.

Karena dengan mengakui semua perasaan itu tidak lantas membuat kita menjadi orang yang lemah. Malah akan membuat kita menjadi lebih memahami tentang apa yang sedang terjadi dalam hidup kita. Serta bisa membantu dalam mengambilan keputusan dalam setiap hal yang terjadi.

Dan ini adalah salah satu bentuk dari self love loh. Banyak orang yang menjadi depresi hanya karena tidak mau mengakui tentang apa yang sedang dirasakan.

“By having these negative emoticons doesn’t make you a negative person – Gitasav”

Sri Raditiningsih

Hanya Seseorang yang ingin mencoba membuat karya dan berbagi melalui sebuah tulisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Toxic Family? Inilah Tanda Anda Berada dalam Toxic Family

Sun Aug 4 , 2019
Keluarga merupakan lingkungan pertama bagi seorang anak. Tak heran jika keadaan dalam keluarga sangat berpengaruh dengan karakter dan tumbuh kembang anak. Lingkungan keluarga yang baik dan bahagia akan membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang positif dan penuh kasih sayang. Pun sebaliknya, saat lingkungan keluarga kurang kondusif biasanya akan menbuat anak […]