Toxic Family? Inilah Tanda Anda Berada dalam Toxic Family

Keluarga merupakan lingkungan pertama bagi seorang anak. Tak heran jika keadaan dalam keluarga sangat berpengaruh dengan karakter dan tumbuh kembang anak.

Kesuksesan terbesar adalah memiliki keluarga yang bahagia – sumber gambar : lifehack.io

Lingkungan keluarga yang baik dan bahagia akan membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang positif dan penuh kasih sayang. Pun sebaliknya, saat lingkungan keluarga kurang kondusif biasanya akan menbuat anak menjadi pribadi yang kasar dan cenderung mudah terjerumus dengan hal-hal negatif.

Namun pada kenyataannya, tidak semua keluarga mampu menghadirkan dan membuat suasana dalam keluarganya menjadi keluarga yang ideal.

Sebagian orang yang kurang beruntung, terjebak dalam kondisi keluarga yang malah menghambat perkembangan dirinya. Situasi keluarga yang seperti itu biasa disebut dengan dyfunctional atau toxic family.

Sifat-sifat beracun bisa terjadi dalam hubungan suami-istri, orang tua- anak, atau bahkan antar saudara kandung maupun kerabat keluarga lainnya.

Secara umum, masalah yang sering terjadi dalam sebuah keluarga berakar dari buruknya komunikasi diantara kedua belah pihak.

Setiap orang berhak menentukan jalan hidupnya sendiri – sumber gambar : Thebreatheffect.com

Masalahnya tidak semua orang sadar bahwa ia terjebak dalam toxic family. Karena, bagaimanapun keluarga selalu menjadi tempat berpulang yang nyaman. Meskipun, keadaannya bisa membuat tidak nyaman.

Berikut adalah beberapa hal yang menjadi tanda bahwa kamu berada dalam toxic family.

Orang tua yang terlalu mengekang dan membatasi anak.

Setiap anak terlahir dengan kondisi yang berbeda-beda serta memiliki kelemahan dan kelebihan yang berbeda pula. Hal tersebut pun sudah sangat dimengerti oleh setiap orang tua.

Pola asuh pada anak sangat menentukan masa depan anak – sumber gambar : Medium.com

Namun terkadang, orang tua entah secara sadar ataupun tidak sadar, terlalu memaksakan kehendak pada anak untuk mengikuti apa yang diinginkannya, tanpa memperdulikan kondisi yang terjadi pada anak.

Terkadang anak dijadikan sebagai objek pengganti untuk melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh orang tua.

Hal tersebut membuat orang tua menjadi sosok yang terlalu mengatur dan membatasi apa yang ingin dilakukan oleh anaknya. Hal seperti itu bisa menjadi salah satu tanda toxic family.

Memang benar, setiap orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk setiap anaknya. Dan tidak ada orang tua yang akan menjerumuskan anaknya kedalam hal-hal yang akan merugikan masa depan anak. Tetapi ada hal yang mungkin juga tidak disadari oleh para orang tua.

Yaitu, memaksakan kehendaknya pada anak dapat membuat sang anak tumbuh menjadi orang yang tidak percaya diri atau bahkan tidak bisa mengambil keputusan dalam hidupnya.

Karena ia sudah terbiasa diarahkan. Sehingga membuat anak menjadi takut setiap kali harus memutuskan sesuatu karena takut hal tersebut tidak sesuai dengan harapan orang tuanya.

Nah kalau sudah seperti itu, hal yang awalnya diharapkan menjadi sesuatu yang baik untuk sang anak malah menjadi boomerang untuk orang tua. Karena, orang tua tidak mungkin akan selamanya ada dan dapat memberikan arahan untuk anaknya secara terus- menerus. Ada kalanya setiap anak harus berani mengambil keputusan untuk hidup yang ia jalani.

Saling Menyalahkan Saat Ada Masalah.

Dalam hidup tidak akan pernah bisa lepas dari sebuah masalah, entah itu masalah yang serius atau masalah yang sepele, pun didalam keluarga.

Bisa saja anda sedang merasa lelah dan bad mood karena banyak hal yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang diharapkan atau saat seorang anak merasa kecewa dengan dirinya karena ia tidak bisa menjadi siswa terbaik di sekolah.

Saat merasakan hal-hal seperti itu, sudah pasti kita memerlukan serta mengharapkan dukungan dan pehatian dari anggota keluarga lainnya.

Alih-alih memberikan sebuah dukungan untuk menguatkan dan mengembalikan agar mood membaik, lingkungan toxic family justru akan menyalahkan dan melimpahkan semua kesalahan pada anda atas keadaan yang sedang dialami.

Hal seperti itulah yang bisa membuat kita semakin stress.

Uang Menjadi Sebuah Tolak Ukur.

Hubungan dalam sebuah keluarga harusnya terjalin karena tulusnya kasih sayang dan rasa saling mengerti satu sama lain. Tetapi dalam lingkungan toxic family biasanya semua hal hanya diukur dengan harta semata.

Tanda-tanda yang biasanya muncul adalah saat ada anggota keluarga atau kerabat yang terlalu mengontrol atau mendominasi masalah keuangan, atau membanding-bandingkan tentang harta yang kita miliki atau peroleh dengan yang dimiliki keluarga lainnya.

Hubungan keluarga yang hanya diukur dari materi dan harta yang kita miliki bukanlah sebuah hubungan yang sehat dan menjadi tanda dari toxic family.

Berpihak Pada Kepentingan Satu Pihak Saja.

Hubungan keluarga yang bahagia dan harmonis dapat tercapai jika setiap anggota keluarganya mampu untuk saling menghargai, memahami serta memberikan dukungan penuh atas segala hal yang terjadi dalam sebuah keluarga.

Kunci keluarga bahagia adalah saling menghargai – sumber gambar : Abcnews.go.com

Bila hubungan suatu keluarga hanya didominasi oleh satu orang dan tidak adil dalam pemberian hak setiap anggotanya, maka hal tersebut bisa dikategorikan sebagai toxic family.

Kondisi seperti itu bisa terjadi dalam hubungan antara suami-istri atau sikap orang tua yang selalu membandingkan anak-anaknya.

Padahal kondisi setiap keluarga tidak pernah sama, jadi tidak akan ada habisnya jika terus membandingkan keluarga kita dengan keluarga yang lain.

Sikap seperti itu hanya akan membuat orang yang dibandingkan merasa gagal menjadi dirinya sendiri, merasa tidak dihargai keberadaannya dan selalu hidup dalam standar hidup orang lain.

Merasa Kesepian dan Stress saat di Rumah.

Ada istilah rumahku adalah surgaku. Karena memang pada dasarnya rumah merupakan tempat kita untuk pulang dan melepaskan segala penat yang kita dapatkan dari luar saat sedang beraktivitas.

Dan merasa damai karena berada dalam lingkungan yang beranggotakan orang yang paling dekat dengan kita yaitu, keluaraga.

Namun tidak semua rumah dapat memberikan suasana yang hangat dan penuh cinta seperti yang kita harapkan. Terkadang malah saat berada dalam lingkungan keluarga kita merasa asing, hal tersebut biasannya membuat kita merasa kesepian.

Kadang juga kita bisa merasa semakin stress saat ada di rumah karena banyaknya tekanan yang diberikan oleh keluarga.

Biasanya tekanan emosi dan stress yang dialami karena kondisi keluarga yang tidak kondusif bisa membuat kita menjadi pribadi yang mudah marah, kondisi emosi yang tidak stabil juga menyebabkan kesehatan mental yang tidak baik

**
Itu adalah hal-hal yang biasa terjadi pada lingkungan toxic family. Namun saat kita terjebak atau berada dalam toxic family bukan berarti kita harus membenci keluarga kita sendiri, bagaimana keluarga akan selalu menerima dan memaafkan segala hal yang pernah kita lakukan.

Kita tidak pernah tahu apa yang melatar belakangi sifat toxic yang ada dalam keluarga kita. Entah itu karena pola asuh yang salah pada jaman terdahulu atau karena faktor internal lain yang menjadikan kita sebagai pelampiasaannya.

Kita juga tidak mampu untuk mengubah kondisi yang terjadi dalam keluarga dengan mudahnya, yang bisa kita lakukan adalah menerima semua kondisi tersebut, lalu mulai belajar untuk memaafkan atas setiap kondisi yang kita alami. Serta mencoba mengubah pola pikir kita agar hal serupa tidak terulang lagi dimasa yang akan datang.

Sri Raditiningsih

Hanya Seseorang yang ingin mencoba membuat karya dan berbagi melalui sebuah tulisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Apakah Perceraian Berarti Menghancurkan Masa Depan Anak? Beberapa Hal yang Dapat Mengurangi Dampak Perceraian pada Anak

Sun Aug 4 , 2019
Setiap orang yang menikah pasti berharap bisa memiliki keluarga yang harmonis dan bahagia. Namun kenyataannya tidak semua orang mampu mempertahankan keutuhan dalam berumah tangga. Penyebabnya pun beragam. Mulai dari masalah ekonomi, merasa tidak dihargai sebagai seorang pasangan, hingga hal-hal pribadi yang tidak dapat diungkapan kepada khalayak umum. Berakhirnya suatu hubungan […]