Merasa Hidup Engga Bergairah? Kayanya Kamu Butuh ini deh…

Jika kita mau berfikir, hidup ini sebenernya adalah anugrah tak ternilai yang diberikan Tuhan untuk para hambaNya. Bagaimana tidak, begitu banyak karunia dan nikmat yang telah Tuhan berikan kepada kita. Dan semuanya itu Dia berikan secara cuma-cuma. Alias gratisss!!!

Sayangnya, dengan jumlah populasi manusia yang mencapai 7 miliar di bumi ini. Rupanya engga sedikit juga yang hidupnya itu gak bergarirah. Monoton gitu-gitu aja. Kalo ngutip lagunya Fourtwnty mah katanya ‘Pagi ke pagi ku terjebak di dalam ambisi, seperti orang-orang berdasi yang gila materi…’ wkwkwk. Mudah-mudahan kamu mah engga termasuk yang kaya gitu yaa…

Hidup hanya mengerjakan goals orang lain (Sumber: bbmpicture-blog.tumblr.com)

Nah ditulisan ini saya akan coba share pengalaman pribadi saya mengenai hal ini. Sebab jujur, beberapa tahun ke belakang saya juga termasuk ke dalam lirik yang disampaikan Fourtwnty dalam lagunya yang berjudul Zona Nyaman itu. Terjebak dalam ambisi gak jelas. Dan aseli, itu gak sehat banget.

Baca juga: Manfaat dari nasi bambu

Ibaratnya nih, kita hidup itu kaya robot. Hidup tapi mati. Lah maksudnya gimana? Iyaa jadi jasad kita hidup, tapi sebenernya pikiran kita mati. Kok bisa gitu? Jelas dong. Karena kreativitas kita jadi beku. Gak berfungsi sebagaimana seharusnya. Dan inilah yang membuat hidup kita jadi gak bermakna. Jadi siklusnya itu bangun tidur, kerja/sekolah, tidur lagi. Dan hal demikian itu terjadi selama bertahun-tahun.

Nah terus apa dong yang harus saya lakukan supaya hidup kita bisa jauh lebih bermakna? milikilah goals! kuncinya hanya itu. Dan gak bisa ditawar-tawar lagi. Sebab goal-goals itulah yang akan membuat kita semangat bangun di pagi hari, bergerak dengan tujuan yang jelas, dan juga alasan untuk kita selalu berdoa kepadaNya.

Goals untuk Sukses (Sumber: Ekozone.com)

Terus yang dimaksud dengan goals itu apa sih sebenernya? Nah ini dia…

Definis goals (Sumber: Instagram @gatherich)

Sudahkah anda punya goals untuk seminggu, sebulan, atau setahun yang akan datang? Jika belum punya, maka jangan salahkan siapa-siapa jika memang hidupmu monoton gitu-gitu aja. Jangan pernah mengkambinghitamkan siapapun. Karena itu murni kesalahan kamu sendiri.

Tapi jika kamu pengen berbenah. Dan capek dengan kondisi saat ini yang biasa-biasa aja. Maka selamat, anda berada di tulisan yang sangat tepat. Lanjutin sampe beres yaa, insya Alah ini bakal menjadi salahsatu solusinya.

Terus gimana dong cara buat target yang benar? Nah sebenernya ada banyak cara untuk bisa menyusunnya. Hanya saja menurut aya pribadi, metode yang simpel dan cocok untuk digunakan di awal-awal itu adalah metode SMART. Apa itu? Nah SMART itu merupakan singkatan dari Spesific, Measurable, Attainable, Relevant, dan Time Based. Metode ini pertama kali dikemukan oleh George T. Doran dalam Management Review edisi November 1981.Okeey kita langsung bahas aja ya satu persatu…

Metode SMART (Sumber: Toolshero.nl)

 

1. Specific

Maksud dari spesicifik adalah target kita gak boleh ambigu dan ngambang. Hindari target-target yang sifatnya umum. Maksudnya umum itu kaya gimana deh? Jadi target-target yang umum dan kurang mendetail. Misalnya aja nih, saya ingin menjadi orang yang bermanfaat. Ini paling banyak biasanya di sebut oleh orang-orang. Atau target umum lainnya yang sangat populer adalah ingin membahagiakan kedua orangtua.

Apakah target-targe tersebut salah? Enggak sama sekali. Hanya saja kurang tepat. Kenapa? Soalnya target untuk menjadi orang yang bermanfaat dan ingin membahagiakan kedua orangtua itu terlalu general. Gak spesifik.

Be Specific (Sumber: Edtpatips.com)

Kalo mau nih, target-target tersebut kita breakdown lagi kepada sesuatu yang lebih kecil lagi. Hal ini supaya lebih spesifik dan lebih ke bayang nantinya akan seperti apa. Soalnya untuk jadi orang yang bermanfaat itu banyak caranya kan ya? Bisa melalui apa aja. Nah misalnya nih kalo saat ini kamu lagi kuliah di jurusan kedokteran. Maka ketika kelak saya sudah resmi jadi dokter, saya akan menyediakan pengobatan gratis bagi siapapun yang kurang mampu.

Begitu juga untuk yang kuliah di jurusan-jurusan lainnya. Atau mungkin punya keahlian tertentu yang bisa dijadikan jalan untuk menjadi kebermanfaatan bagi orang lain. Kalo seperti itu lebih kebayangkan dan gak terlalu ngawang-ngawang. Yang pasti, buatlah target-target itu menjadi lebih spesifik lagi okaaayyy!!!

 

2. Measurable

Nah selain spesifik, target yang kita buat juga haruslah terukur (measurable). Maksudnya gimana sih? Jadi goals-goals yang kita miliki itu harus punya parameter yang jelas. Gak boleh asal-asalan. Filosofi yang melatar belakangi poin ini yaitu “Jika target tidak dapat diukur, mustahil untuk mengetahui apakah anda telah membuat kemajuan dalam mencapai tujuan akhirnya”.

Measurable (Sumber: Staceybarr.com)

Misalnya nih kembali lagi ke yang tadi. Kamu kan udah punya goal yang spesifik yaitu ingin menjadi dokter yang bisa menyediakan pengobatan gratis bagi siapapun yang kurang mampu. Nah target tersebut harus punya parameter tertentu agar kita bisa declare apakah target tersebut telah berhasil kita capai atau belum.

Masih bingung? Okaay gak masalah. Jadi maksudnya measurable itu targetnya harus lebih mendetail lagi. Misalnya nih target yang tadi itu dikatakan berhasil ketika pengobatan gratis bisa diberikan kepada minimal 100 orang di daerah pedalaman Kalimantan. Nah artinya, saat parameter tersebut belum kita capai, maka goals kita belum kita raih.

 

3. Attainable

Maksud dari attailable adalah target tersebut dapat dicapai. Artinya harus realistis bro! Bukan bermaksud untuk engga boleh bermimpi terlalu tinggi. Tapi hal ini untuk memudahkan kita dalam membayangkan step demi step yang bakal kita lakukan untuk mencapai goals tersebut.

Soalnya gak lucu juga kan jika target kita gede nih, tapi kita sendiri gatau step by step yang mau dilakuinnya apa wkwk. Masih ingat kan rumusnya, semakin kita terlalu berharap, maka akan semakin terasa sakit juga jika target tersebut engga kesampaian.

Attainable atau possible (Sumber: Careeraddict.com)

Makanya untuk kali ini kita coba berpikir realistis dulu yaa. Idealis memang boleh sih, tapi jan lupa harus tetep realistis juga. Jadi setelah kita mempertimbangkan berbagaimacam potensi, kemampuan, dan hambatan yang ada. Baru tuh kita tetapin goalsnya.

Misalnya nih balik lagi ke target yang sebelumnya. Kita kan udah punya target untuk menjadi dokter supaya bisa memberikan pengobatan gratis bagi masyarakat yang kurang mampu. Dan parameter keberhasilannya adalah saat pengobatan gratis itu bisa diberikan kepada minimal 100 orang di daerah pedalaman Kalimantan. Nah kita pikir kembali nih, apakah target tersebut sudah realistis?

Jika terlalu mudah maka measurable nya bisa sedikit kita turunkan. Tapi jika dirasa itu terlalu gampang, naikin aja sekalian. Yang penting, itu masuk perhitungan realistis di pikiran kita.

 

4. Relevant

Poin selanjutnya adalah relevant. Dalam kata lain, goals-goals yang kita buat itu harus sesuai dan tepat. Jangan sampai nih, kita udah cape-cape buat target. Namun ternyata gak tepat dan sesuai dengan background ataupun tujuan kita kedepannya.

Contohnya nih, ada seorang yang bercita-cita menjadi Insinyur. Hanya saja dia kuliah di jurusan bahasa wkwk. Gak nyambung kan? Harusnya nih, kalo emang dia bercita-cita jadi Insinyur maka masuklah Fakultas Teknik. Tapi kalo emang cita-citanya jadi sastrawan maka jurusan bahasa adalah pilihan yang tepat.

Relevant (Sumber: blogs.oracle.com)

Nah balik lagi ketujuan yang tadi. Jika dirasa target menjadi dokter agar setidaknya bisa memberikan pengobatan gratis kepada 100 orang kurang mampu di daerah pedalaman Kalimantan dirasa sudah realistis. Maka selanjutnya adalah apakah target tersebut sudah relevan engga dengan apa yang sedang saat ini kita jalanin? Jangan sampai banting stir.

Kalo misalnya saat ini kamu lagi fokus pendidikan di dokter spesialis anak, berarti target yang relvan adalah anak-anak kan. Bukan orang dewasa. Jadi target kita lebih detail lagi dan tidak tidak bersifat general. Semoga makin kebayang yaaa…

 

5. Time Based

Yang terakhir adalah target kita harus punya batas waktu. Hal ini supaya membuat kita lebih termotivasi lagi untuk bergerak. Artinya, kita harus punya deadline yang jelas kapan goal-goals yang telah kita buat dapat direalisasikan.

Time Bonded (Sumber: therelationshipcenter.biz)

Nah hal ini perlu perhitungan yang cukup matang. Sebab jika waktu yang kita setting terlalu sempit, itu akan jadi beban bagi kita. Sementara jika kita setting nya terlalu lama, kita bakal kehilangan motivasi. Jadi harus diperhitungkan benar-benar agar pas. Tidak lebih dan tidak kurang.

Misalnya sesorang yang bercita-cita menjadi dokter tadi. Jika saat ini posisinya masih dalam tahap pendidikan, kira-kira butuh berapa tahun lagi agar saya benar-benar bisa terjun ke masyrakat. Harus diperhitungkan secara jelas. Jika waktu 3 tahun di rasa cukup. It’s okayyy. Maka setinglah goal tersebut untuk bisa direalisasikan pada tahun 2022 mendatang.

 

Seperti itu mentemen. Gimana udah punya target belum sekarang? Kalo belum maka segera buat. Namun jika sudah, pastikan setidaknya target tersebut sudah memenuhi metode SMART tersebut. Doa saya, mudah-mudahan siapa saja yang sudah punya target dapat segera direalisaikan. Semangaaat yaaa!!!

Irvan Daniansyah

Lagi belajar istiqomah untuk menulis. Semoga ada manfaatnya yaa :))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Dampak Jika Terlalu Sering Menonton Drama Korea

Thu Aug 1 , 2019
Siapa diantara kamu yang tidak suka dengan drama Korea? Jawabannya sudah pasti lebih banyak yang menyukai drama Korea dibandingkan yang tidak menyukai. Hal tersebut memang bukan sesuatu yang mengherankan, terutama bagi para cewek-cewek di Indonesia. Selain memiliki jalan cerita yang menarik dan tidak membosankan, salah satu daya tarik yang paling […]