Sejarah Rendang

Indonesia, merupakan negara yang luas dan kental akan keanekaragaman budaya. Terbentang dari Sabang hingga Marauke dan terbagi menjadi 34 provinsi yang tentu saja setiap daerah memiliki makanan khasnya masing-masing.

Rendang sapi-Tribunnews.com

Uniknya, makanan khas daerah-daerah di Indonesia tidak hanya memiliki cita rasa yang enak, namun juga ada hal-hal yang bisa kita petik dari setiap pengolahan masakan tersebut. Salah satunya adalah rendang.

Siapa yang tidak tahu rendang, mengingat rendang adalah salah satu jenis makanan favorit yang sering kita jumpai di warung masakan Padang. Tapi walaupun kita sering memakan rendang, apakah diantara kita ada yang mengetahui tentang sejarah masakan khas Padang ini?

Rendang merupakan masakan khas Sumatera Barat, tepatnya di Minangkabau, yang terbuat dari daging sapi yang diselimuti dengan racikan bumbu gurih dan pedas.

Rendang termasuk jenis makanan yang kaya rempah dengan daging sebagai bahan dasarnya. Rendang juga menggunakan santan kelapa dan campuran berbagai rempah yang dihaluskan seperti: cabai, lengkuas, jahe, kunyit, bawang dan masih banyak bumbu lainnya.

Keunikan rendang lainnya adalah bumbu yang digunakan memiliki sifat antiseptik, yang berguna sebagai pengawet alami. Itu sebabnya, rendang dapat bertahan lama meskipun dimasak tanpa bahan pengawet. Selain itu, bumbu yang lainnya juga diketahui mempunyai aktivitas antimikroba yang kuat. Tidak heran kan, kalau rendang bisa bertahan hingga berbulan-bulan. Waktu pemasakannya pun tidak sebentar, yaitu sekitar delapan jam hingga kuah benar-benar kering.

Sejarah Rendang

Tahukah kamu, bahwa rendang juga mempunyai cerita sejarahnya loh. Jadi, bagi masyarakat Minang, rendang sudah menjadi salah satu makanan bagian dari kehidupan kuliner mereka sejak jaman nenek moyang mereka.

Tidak ada yang tahu, kapan pertama kali rendang diciptakan. Tetapi banyak dugaan yang muncul dikalangan para peneliti bahwa, makanan khas Minang ini muncul sejak orang Minang mengadakan acara adat mereka untuk pertama kalinya.

Mungkin karena seni memasak rendang yang khas, berkembang dari Riau, Mandailing, Jambi bahkan hingga Negeri Sembilan yang merupakan negara bagian federasi Malaysia. Karena banyak perantau Minang yang tinggal disana.

Catatan tentang rendang sebagai makanan tradisional dari daerah Minangkabau ditemukan pada awal abad ke-19, namun Gusti Anan, seorang Sejarawan dari Universitas Andalas di Padang, memiliki dugaan bahwa rendang sudah ditemukan sejak abad ke-16

Hal tersebut ia simpulkan berdasarkan catatan literatur abad ke-19 dimana tertulis bahwa, masyarakat Minang darat sering bepergian menuju Selat Malaka hingga Singapura. Perjalanan tersebut memakan waktu yang sangat lama, karena harus menempuh jalur laut. Mengingat tidak ada perkampungan disepanjang perjalanan, para perantau pasti sudah menyiapkan makanan yang tahan lama, diduga kuat makanan itu adalah rendang.

Gusti juga menduga bahwa pembukaan kampung baru di Pantai Timur Sumatera hingga Singapura, Malaka dan Malaysia oleh masyarakat Minang pada abad ke-16 juga sudah mengikutsertakan rendang sebagai menu bekal perjalanan mereka yang membutuhkan waktu berbulan-bulan lamanya.

Selain itu, dari sebuah catatan Kolonel Stuers pada tahun 1827 ditemukan catatan tentang kuliner dan sastra. Dari catatan tersebut sering muncul implisit deskripsi kuliner yang diduga mengarah pada rendang. Karena tertulis istilah makanan yang dihitamkan dan dihanguskan. Menurut Gusti, itu adalah salah satu pengawetan yang biasa orang Minang lakukan. (waah itu sih memang mengarah banget ke rendang yaa)

Rendang sendiri berasal dari kata “merandang” yaitu memasak santan hingga kering secara perlahan, hal ini sangat cocok dengan rendang yang memang memerlukan waktu lama untuk mengeringkan kuahnya, dan membuat bumbu meresap secara sempurna kedalam daging.

Tidak hanya berhenti sampai disitu, sejarah rendang juga tidak bisa terlepas dari kedatangan orang-orang Arab dan India dikawasan pantai barat Sumatera.

Diduga bumbu-bumbu rempah dalam rendang, diperkenalkan pertama kali oleh orang India yang tinggal di daerah Minang.

Bahkan ada dugaan lainnya yang muncul yaitu, masakan kari yang merupakan makanan khas India yang pertama kali diperkenalkan di Minang pada abad ke-15 merupakan dasar dari masakan rendang. Mengingat pada saat itu India memang memiliki kontrak perdagangan.

Yang membedakan kari dan rendang adalah kari yang memiliki kuah, sedangkan rendang bersifat kering, sehingga mampu bertahan lebih lama dibandingkan kari.

Meski sudah cukup lama, namun masakan rendang tidak pernah terlupakan dan tetap ada hingga saat ini. Bahkan kini rendang telah memiliki banyak variasi, mulai dari rendang ayam, bebek, hati, telur, dan lain sebagainya.

Filosofi Rendang

Bumbu rempah – Brilicious

Makanan tradisional khas Padang ini, ternyata memiliki posisi yang terhormat loh. Sebab bahan yang digunakan untuk membuat rendang mempunyai makna sendiri-sendiri. Yang pertama adalah daging, daging melambangkan niniak mamak dan bundo kanduang, dimana itu akan memberi kemakmuran pada anak pisang dan anak kemenakan.

Bahan kedua adalah kelapa, yang melambangkan kaum intelektual, yang lebih dikenal di Minang dengan istilah Cadiak Pandai, dimana mereka merekatkan kebersamaan kelompok maupun individu.

Yang ketiga adalah lado atau sambal, sebagai lambang alim ulama yang tegas dan pedas dalam mengajarkan agama. Bumbu terakhir adalah pemasak atau bumbu, yang melambangkan setiap individu selalu memiliki perannya tersendiri dalam segala hal, untuk memajukan hidup berkelompok dan unsur terpenting dalam hidup bermasyarat, terutama bagi masyarakat Minang.

**

Waah engga nyangka yaa ternyata makanan yang selama ini sering kita jumpai, bahkan sering kita makan, mempunyai sejarah yang panjang dan nilai filosofi yang dalam bagi masyarakat Minang.

Selama ini kita hanya tahu bahwa, rendang adalah makanan yang enak dan membuat siapapun yang memakannya pasti akan ketagihan. Tapi ada hal lain yang mau saya sampaikan selain tentang sejarah dan filosofi diatas, yaitu tentang proses pembuatan rendang dan jalan hidup setiap orang ternyata memiliki kesamaan.

Dimana letak kesamaannya? Seperti yang sudah dijelaskan diatas, bahwa memasak rendang perlu memakan waktu yang begitu lama hingga akhirnya bisa menjadi makanan yang begitu enak dan digemari banyak orang.

Pun dengan hidup, untuk mendapatkan sesuatu terbaik dalam hidup ini tidaklah mudah. Kita harus melawati banyak rintangan bahkan mungkin harus merasakan jatuh bangun berulang kali hingga akhirnya benar-benar mendapatkan apa yang kita inginkan.

Tidak mudah memang, bertahan dengan rasa sakit dan kegagalan. Tapi sepertinya hakikat hidup memang tentang sebuah perjuangan. Saat kita sedang diatas, maka bagaimana caranya kita berjuang untuk tidak sombong dengan apa yang dimiliki, karena semua hanyalah titipan.

Pun saat hidup sedang berada pada titik terendah dalam hidup, kita juga harus berjuang untuk bisa bangkit dan tidak menyerah begitu saja dengan keadaan. Kita tidak pernah tahu tentang hasil apa yang akan kita dapatkan nantinya, karena tugas kita hanya terus berusaha melakukan yang terbaik.

Jadi jangan pernah menyerah yaa guys, karena tidak akan pernah ada kemajuan tanpa sebuah perjuangan.

Sumber referensi : saribundo.biz

Sri Raditiningsih

Hanya Seseorang yang ingin mencoba membuat karya dan berbagi melalui sebuah tulisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Jajannan di Kota Cirebon ini akan membuat anda flashback

Wed Aug 7 , 2019
Cirebon adalah salah satu kota budaya yang terletak di Jawa Barat tepatnya perbatasan antara Jawa Tengah, Cirebon menjadi salah satu desti wisata dari berbagai masyarakat karena disana terdapat makam para wali alloh yaitu Sunan Gunung Jati, suasana di sana pun masih sangat terasa tradisional sekali, masih banyak becak-becak yang menjadi […]
kota Cirebon