Ini Dia Tiga Patokan Untuk Menyimpulkan Akhlak Seseorang!

Seringkali kita menyimpulkan kepribadian atau akhlak seseorang hanya dari penampilan luarnya saja. Wajar memang, soalnya itu adalah hal yang pertama kali keliatan oleh mata kita. Tak salah juga sih sebenernya. Apalagi jika memang kita baru jumpa pertama kali.

Hanya saja, terkadang penampilan itu engga mencerminkan kepribadian seseorang yang sesungguhnya. Tapi hal ini juga bukan berarti kita engga boleh memperhatikan pemampilan yaa. Salah banget kalo kita mikirnya kaya gitu. Soalnya penampilan juga merupakan suatu hal yang penting untuk diperhatikan.

Penampilan terkadang tidak selalu menunjukan akhlak seseorang (Sumber: Pexels.com)

Masalahnya nih penampilan itu gampang banget untuk dimanipulasi. Maksudnya ada orang yang dari segi penampilannya memang keren, berwibawa, dan lain sebagainya. Tapi ternyata sifat aslinya engga seperti itu. Jadi banyak juga yang penamiplan hanya dijadikan sebagai kedok dan alat pencitraan saja. Lantas kalo gitu gimana dong cara menilai kepribadian seseorang itu baik atau engga?

Baca juga: Jakarta Lebih Kejam Dari Ibu Tiri?

Nah caranya cukup perhatikan tiga hal ini. Tips ini berasal dari Sahabat Umar bin Khattab, salahsatu sahabat yang sudah di jamin masuk surga. Jadi suatu ketika  ada seorang lelaki yang bersaksi dihadapan Umar bin Khattab rhodiyallohu ‘anhu. Kemudian Umar berkata kepada lelaki tersebut, “Aku tidak mengenalmu, dan tidak masalah meskipun aku tak mengenalmu. Tapi datangkanlah seseorang yang mengenalmu!”

Tiba tiba seorang laki-laki diantara yang hadir berkata, “Aku mengenalnya dengan baik wahai Amirul mukminin”.

Umar lantas bertanya, “Bagaimana engkau mengenalnya?”

Ia menjawab, “Dia adalah orang yang bisa dipercaya”.

Umar kembali bertanya,  “Apakah engkau pernah mengamanahkan sesuatu kepadanya?”

“Tidak,” jawabnya.

“Apakah engkau pernah berbisnis (muamalah) dengannya sehingga kau ketahui bahwa ia adalah seorang yang wara’?” Tanya Umar kembali.

“Tidak.” Jawab lelaki itu.

Kemudian Umar bertanya lagi, “Pernahkah engkau bersafar (berpergian) dengannya hingga engkau ketahui bahwa ia memiliki akhlak yang mulia?”.

“Tidak,” jawabnya lagi.

“Itu berarti engkau tidak mengelanya.” Tegas Umar.

Kemudian Umar berkata kepada pemuda yang bersaksi tersebut, “Carikan aku orang yang benar-benar mengenalmu”.

Nah cerita tersebut diabadikan dalam hadis Imam Al baihaqi dan dishahihkan oleh Albani. Dari hadist tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa setidaknya ada tiga hal yang dapat kita lakukan untuk menyimpulkan kepribadian seseorang. Amanah, muamalah, dan juga safar. Gimana sih maksudnya? Okaaayy akan coba saya jelaskan yaa…

1. Udah Ngasih Amanah Apa Sama dia?

Nah ini adalah cara pertama yang bisa kita lakukan. Jangan pernah kita menyimpulkan seseorang itu baik sebelum kita ngasih amanah pada orang tersebut. Amanah yang dimaksud disini itu kaya gimana ya? Maksudnya kepercayaan gitu. Bisa itu jabatan, dititipin barang, dititipin pesan, dan lain sebagainya. Itu adalah contoh-contoh dari amanah.

Ya walaupun mungkin hanya amanah yang sederhana. Tapi dari amanah tersebut kita bisa tahu sifat aslinya orang tersebut. Contoh yang sederhana aja misalnya nitipin pesan. Misalkan kamu nitipin pesan ke temen kamu untuk disamapaikan ke dosen. Gak muluk-muluk misalnya, hanay pesan ‘mohon maaf nanti siang saya engga bisa ikut bimbingin karena orangtua saya sedang sakit”. Nah coba deh temen kamu itu nyampaikan pesan itu atau engga? 

Jabat Tangan Sebagai tanda dari Amanah atau Tanggungjawab (Sumber: Pixabay.com)

Dari amanah yang sederhana tersebut kita akan tau. Apakah ia bener-bener amanah dengan dititipi pesan tersebut atau engga? Buktinya amanah adalah dia bakal segera menyampaikan pesan tersebut saat ada kesempatan. Dia gak bakal mau nunda-nuda amanah tersebut. Soalnya bakal jadi beban. Tapi kalo orang itu memang pada gak amanah, bisa aja dia bablas dan kelupaan.

Dari hal sederhana itu kita bisa tau, jika amanah kecil saja seperti nyampein pesan ke dosen dia udah gak amanah. Mana mungkin orang tersebut bisa dipercayakan untuk mengemban amanah yang jauh lebih besar dari itu? Wong yang kecil aja gak bisa apalagi yang lebih gede.

Jadi, sudah seberapa seringkah kita memberikan amanah pada orang-orang terdekat di sekitar kita? Gimana respon mereka terhadap amanah yang kita berikan? Jangan sampe kita sama temen kita udah temenan lama, tapi ternyata belum pernah ngasih iamanah sedikit pun. Kalo gitu jan-jangan selama ini kita hanya diamanfaatin aja loh wkwkwk. Semoga saja tidak yaa.

2. Sudah Pernah Ber-muamalah Bareng Belum?

Yang kedua ini adalah masalah muamalah atau bisnis. Kenapa hal ini menjadi salah satu tolak ukurnya? Sebab dari hubungan muamalah ini akan ketahuan sifat asli dari seseorang. Muamalah ini masalah perut brader. Masalah dapur, apakah ngebul atau tidak. Jadi terkadang kebanyakan orang itu menghalalkan berbagaimacam cara. Apalagi yang udah berkeluarga kan. Ada anak istri yang menjadi tanggungjawabnya.

Engga sedikit juga loh yang dari segi ibadahnya orang tersebut baik, tapi rupanya dari segi muamalah rusak. Makanya muamalah ini jadi salahsatu kriteria untuk menyimpulkan seseorang itu baik atau engga. Contoh sederhana, dan yang dekat dengan kehidupan kita mengenai masalah muamalah ini adalah tentang minjem uang. Misalkan temen kamu pernah minjemin uang ke kamu. Gak banyak-banyak lah, misalnya,5 ribu saja.

Transaksi Pinjam Meminjam Merupakan bagian dari Muamalah (Sumber: Shutterstock.com)

Nah coba deh temen kamu itu bayar atau malah bilang, ‘udah lah yaah di ikhlasin aja, kapan lagi coba bisa sodaqoh ke orang sperti saya?’ wkwkwk. Ada gak tuh yang kaya gitu? Atau malah kamu orangnya? Semoga saja bukan ya hehe.

Dari muamalah yang sederhana tersebut kita juga bakal tau. Apakahorang tersebut benar-benar baik atau engga? Jika masalah muamalah yang sederhana saja ia sudah menunjukan tanda-tana yang kurang baik. Berarti bisa dipastikan kalo orang tersebut masih belum baik. Jika ada orang yang seperti itu, mari kita doakan bareng-bareng mudah-mudahan segera kembali ke jalan yang benar yaa…

Baca Juga: Anda Merasa Hebat?

3. Pernah Jalan-jalan dan Travelling Bareng Kemana Aja? Pernah Nginep Bareng juga Kah?

Yang terakhir ini berhubungan dengan safar, atau perjalanan. Biasanaya sifat asli seseorang akan ketauan saat kita jalan bareng. Apakah dia orangnya itu panikan, gak sabaran, mementingkan diri sendiri, dan hal-hal lainnya. Pokonya sifat aslinya itu bakal keluar semuanya.

Apalagi jika jalan barengnya berhar-hari. Misalnya naik gunung ataupun berpergian ke luar pulau. Ah udah deh itu mah bakal ketauan semua sifat aslinya. Soalnya susah juga kan kalo misalnya jaim berhari-hari mah wkwkwk. Jadi pasti nampak tuh, apakah akhlak dia baik atau engga.

Camp Bareng )Sumber: Unsplash.com)

So, jika sampai dengan saat ini kita belum pernah mengadakan safar bareng dengan orang yang dia naggap kita baik. Segera agendakan. Cuma untuk memastikan aja sih, apakah orang yang kita anggapa baik itu benar-benar baik atau justru malah ada maksud tertentu. Bukan bermaksud untuk suudzon, hanya memastikan saja suapaya gak timbul prasangka yang kurang baik ;).

Nah itu dia tiga patokan yang bisa kita lakukan untuk menyimpulkan akhlak seseorang. Apakah baik atau sebaliknya. Tiga hal aja, gak banyak-banyak ko. Kira-kira setelah baca tulisan ini sudah berapa banyak sahabat-sahabat kita yang memang baik?

Jika memang udah banyak, selamat yaaa. Jaga terus hubungan baik dengan mereka semua. Karena mencari teman atau sahabat seperti itu susah banget. Jika belum memilikinya satupun, segera cari! Mumpung masih ada kesempatan. Doa saya hari ini, semoga kita selalu dikelilingi oleh orang-orang baik diamanapun kita berada :)). (ID)

Irvan Daniansyah

Lagi belajar istiqomah untuk menulis. Semoga ada manfaatnya yaa :))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Ada yang Dahsyat Loh di Balik Sebuah Kata! Apa Aja Itu?

Tue Aug 13 , 2019
“Berkata baiklah atau diam” begitulah nasihat Nabi Muhammad  ﷺ beberapa abad yang lalu. Namun sampe sekarang petuah-petuah yang disabdakan oleh Manusia paling mulia itu seolah-olah makin menjadi dan kebenarannya semakin jelas terang benderang. Belaiu hanya memberi kita dua pilihan, kalo seandainya gak bisa bicara yang baik-baik, maka diam adalah pilihan yang […]