Solusi Tepat Agar Millenials Tak Salah Langkah Menjelang Lulus Kuliah

Setiap tahunnya, jumlah lulusan yang berasal dari perguruan tinggi di Indonesia engga kurang dari satu juta jiwa. Pada tahun 2017 saja misalnya, Kemenristekdikti menyebutkan kalo jumlah mahasiswa yang telah berhasil meraih gelar sarjana mencapai 1.046.141 orang. Banyak juga ya rupanya, nyampe satu juta lebih.

Di satu sisi sih sebenernya Indonesia patut bersyukur dan bangga. Kenapa? karena dari sekian banyak fresh graduate yang berhasil dicetak tersebut akan lahir sosok-sosok baru yang tentunya akan menjadi solusi dari berbagai macam persoalan yang menimpa bangsa ini. Namun kita juga engga bisa menutup mata kalo  ternyata ada sesuatu di balik itu semua yang akan membuat kita miris dan nampak tak percaya.

Bagaimana tidak, Badan Pusat Statistik (2018) menyatakan kalo dari jumlah pengangguran Indonesia yang mencapai 7 juta orang, 11,91 persennya merupakan lulusan perguruan tinggi. Alias sarjana. Artinya nih, dari total fresh graduate yang telah menyelesaikan masa studinya hanya sekitar 20 persen saja yang setelah selesai kuliah tidak menganggur. Sisanya? Masuk ke dalam 7 juta orang yang disebutkan tadi.

Jangan Sampai Setelah Lulus Kuliah malah Jadi pengangguran (Sumber: Shuttersstock.com)

Gak miris gimana coba? Ternyata pengangguran ‘terdidik’ itu jumlahnya engga sedikit brader! Padahal kan kalo dipikir mah harusnya orang-orang terdidik mah engga susah lah ya buat nyari kerja mah. Wong udah sekolah tinggi-tinggi gitu kan, masa iya harus menanggur. Kalo ujung-ujungnya alumnus perguruan tinggi nganggur mah terus selama ini fungsi dari perguruan tinggi itu untuk apa? Bahkan harusnya mah para lulusan perguruan tinggi itu bukan mencari pekerjaan, tapi menciftakan lapangan pekerjaan.

Namun faktanya memang seperti itu. Terus yang salah siapa dong? Nah kita fokusnya jangan nyari siapa yang salah, karena kalo gitu gak bakal selesai-selesai. Jika kita hanya mengkambinghitamkan pihak-pihak tertentu tanpa fokus mencari, maka hal itu gak bakal nyelesaikan masalah. Malah akan memperburuknya. Terus harus gimana dong? Tenang… tenang… di bawa kaleum aja ya brader!

Kalo menurut pengamatan sederhana saya nih, penyebab dari maraknya pengangguran ‘terdidik’ di Indonesia itu karena mahasiswa nya sendiri. Loh kok gitu? Terus emang kenapa gitu? Emang kenyataannya seperti itu kan. Landasan saya mengatakan seperti itu karena ketika saya berbincang dengan beberapa teman yang sama masih kuliah. Ternyata mereka masih bingung setelah lulus itu mau ngapain?

Bingung Karena Gak Punya Tujuan (Sumber: Unsplash.com)

Tapi ada juga sih yang memang udah memutuskan untuk lanjut S2, bekerja terlebih dahulu, atau banyak juga mau langsung nikah muda wkwk. Walaupun engga sedikit juga mahasiswa yang galau. Mereka galau karena gak tau setelah kuliah mau ngapain. Mereka belum bisa menentukan langkah selanjutnya pasca beres kehidupan kampus itu mau kemana. Dan kegalauan-kegalauan lainnya.  Lantas sebenernya pilihan yang paling tepat setelah lulus itu harus ngapain sih?

Sebenernya kalo ngejawab pertanyaan gitu susah-susah gampang yaa. Soalnya setiap orang punya alasan dan latarbelakang yang berbeda-beda. Jadi pertanyaan yang mungkin saja sama, tapi jawabannya bisa beda. Saya setuju dengan Choqi Isyraqi (2019) yang mengatakan bahwa tidak masalah sebenarnya kita mau lanjut S2, langsung bekerja, ataupun menikah dulu. Asalkan pilihan-pilhan tersebut memang sejalan dengan tujuan kita dalam bebrapa tahun ke depan.

Justru yang akan menjadi persoalan adalah ketika pilihan tersebut tidak mendukung tujuan atau cita-cita kita. Misalnya saja cita-cita kita ingin menjadi dosen, tetapi justru malah bekerja dulu, ini merupakan contoh yang kurang tepat. Kenapa? karena untuk menjadi dosen setidaknya kita harus punya ijazah S2. Tapi sebenarnya bisa saja sih setelah bekerja kuliah lagi S2 dan kemudian menjadi dosen. Itu sebenarnya balik lagi pada desain hidup kita itu mau seperti apa. Jadi memang gak ada jawaban saklek.

Nah yang menjadi persoalan selanjutnya adalah kebanyakan dari mahasiswa yang mau lulus ternyata kebingunangn dalam mentukan tujuan hidup. Jadi hidupnya itu udah ngalir gitu aja. Padahal nih kata Ustadz salim A. Fillah, “Kita yang menjalani hidup dengan mengalir seperti air. Mungkin lupa bahwa air hanya mengalir ke tempat yang lebih rendah”. Maksudnya adalah saat kamu gak punya tujuan hidup ke depan, sebenernya kamu sedang menuju ke tempat yang lebih rendah.

Apalagi Educational Psychologist dari Integrity Development Flexibility (IDF) Irene Guntur, M.Psi., Psi., CGA, sebagaimana dilansir dari Okezone. com menyebutkan kalo 87% mahasiswa yang sedang kuliah merasa salah jurusan.

Duh ternyata banyak loh mahasiswa yang ngerasa salah jurusan (Sumber: Okezone.com)

Ini artinya mereka masuk kuliah engga sesuai dengan tujuan dan cita cita mereka. Bisa jadi karena mereka memang gak punya tujuan hidup atau bisa juga belum menemukannya. Miris memang. Padahal penelitian di Amerika membuktikan kalo orang yang sejak awal punya tujuan hidup peluang untuk suksesnya jauh lebih besar dibandingkan mereka yang menjalani hidup hanya mengalir saja seperti air aja.

Lantas apa yang harus dilakukan oleh para generasi muda, khususnya mahasiswa supaya setelah lulus kuliah engga sampai salah dalam mengambil keputusan yang akan di ambil?

Pertama tentu saja harus punya tujuan hidup yang jelas. Kalo udah punya saya ucapkan selamat. Berarti kamu engga termasuk ke dalam 87% mahasiswa yang salah jurusan. Tapi bagi kamu yang belum, saya sarankan segera buat sekarang juga. Terus gimana cara buatnya? Kamu bisa coba pake ini.

Tapi ada konsep lain yang menurut saya tak kalah menarik. Konsep ini wajib dicoba oleh para millenials supaya bisa menentukan pilihan yang tepat setelah lulus kuliah. Konsep ini sudah terbukti di Jepang dan sangat banyak manfaatnya.

Secara sederhana, konsep ini menanyakan beberapa hal pada seseorang. Jika seseorang dapat dengan mudah menjawab pertanyaan tersebut dapat dipastikan bahwa orang tersebut punya tujuan yang jelas. Namun jika dari beberapa pertanyaan yang diajukan orang tersebut masih kesulitan untuk menemukan jawabannya, maka dapat dipastikan orang tersebut menjalankan kehidupannya hanya mengikuti alur saja tanpa punya tujuan yang jelas. Konsep tersebut bernama Ikigai.

Konsep Ikigai (Sumber: Youthmanual.com)

Dalam konsep Ikigai ini, kita semua diwajibkan untuk bisa menjawab 4 pertanyaan. Pertama, kemampuan paling bagus apa yang kita miliki?. Kedua, lewat pekerjaan apa kita layak untuk dibayar ?. Ketiga, apa yang dunia butuhkan?. Dan yang terakhir, apa yang kita cintai?. Jawaban dari pertanyaan tersebut akan saling beririsan dan bisa jadi bahan pertimbangan pengambilan keputusan setelah lulus kuliah nanti. Jika masih bingung bisa juga tonton video dari Pak Chandra Putra Negara berikut ini.

Memang benar kalau membaca buku, memperbanyak kegiatan positif, memperluas networking, belajar salahsatu skill, dan sederet hal lainnya sangat menentukan seseorang dalam beberapa tahun ke depan. Tapi jika kita belum bisa mendefinisikan tujuan ke depannya mau seperti apa. Maka kita engga akan tau buku apa yang layak untuk baca, networking seperti apa yang ia butuhkan, skill apa yang akan ia dalami, dan sederet hal lainnya.

Nah tujuan itu akan mempengaruhi ke mana seharusnya ia melangkah. Ustadz Nuzul Dzikri dalam suatu tausiyahnya bahkan menganalogikan pentingnya tujuan itu seperti hendak akan bepergian. Jika kita sudah punya tujuan maka kita akan tahu dengan kendaraan apa kita akan pergi, kemana rute yang akan di tempuh, butuh berapa uang yang harus disiapkan, dan lain sebagainya.

Nah mudahmudahan melalui metode Ikagi ini. Kita engga salah melangkah saat kita lulus kuliah nanti. Doa saya hari ini, semoga apapun tujuan kamu nantinya. Hal itu bisa mengantarkan kamu menjadi pribadi yang bermanfaat dan jadi jalan untuk lebih dekat kepadaNya :)). (ID)

Irvan Daniansyah

Lagi belajar istiqomah untuk menulis. Semoga ada manfaatnya yaa :))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Ini Dia Tiga Patokan Untuk Menyimpulkan Akhlak Seseorang!

Mon Aug 12 , 2019
Seringkali kita menyimpulkan kepribadian atau akhlak seseorang hanya dari penampilan luarnya saja. Wajar memang, soalnya itu adalah hal yang pertama kali keliatan oleh mata kita. Tak salah juga sih sebenernya. Apalagi jika memang kita baru jumpa pertama kali. Hanya saja, terkadang penampilan itu engga mencerminkan kepribadian seseorang yang sesungguhnya. Tapi hal ini juga […]