Review Novel: Purple Prose By Suarcani

Judul : Purple Prose

Penulis : Suarcani

Genre :  Metropop

Halaman : 304 Halaman

Penerbit: PT Gramedia Pusaka Utama

Tahun : Okober, 2018

ISBN :9786020614137, 9786020614144

Rate : ★★★★☆

picdeer.com
picdeer.com

Berawal dari  membaca review tentang Novel ini diakun instagram milik Bookism.gia membuat saya penasaran dengan isi keseluruhan dari novel karya Suarcani ini. Warna cover yang menarik perhatian, dan gambar cover yang seolah-oleh mengambarkan sosok yang sangat kesepian dan penuh luka semakin menambah rasa penasaran saya untuk membacanya.

Membaca novel ini berhasil mengaduk perasaan saya hingga tak karuan. Sedih, lucu, bahagia semua perasaan itu muncul saat membaca novel ini. Penulis pun seolah sangat paham bagaimana membuat pembaca untuk tidak melepaskan bacaannya. Sebab, tokoh yang sangat kuat dan kejadian-kejadian yang membuat semakin penasaran dengan kelanjutan ceritanya.

Novel ini bersetting di Bali dan Jakarta. Ada masa lalu yang kelam yang pernah terjadi dengan hidup Galih. Saat itu statusnya masih sebagai mahasiswa. Galih terjerat dengan pergaulan yang tidak baik yaitu narkoba, hal itu pun menyebabkan salah satu sahabatnya meninggal. Sejak kejadian tersebut, Galih dibawa oleh orang tuanya ke Jakarta dan menjalani rehabilitasi. Karena kejadian itu pula membuat Galih kehilangan sang ayah, akibat serangan jantung  melihat kondisi Galih.

Karakter Galih digambarkan sebagai orang yang  tegas, adil, humoris dan kharismatik. Dia adalah Supervisor Sales disebuah perusahaan provider di Indonesia. Lalu suatu ketika, Galih mendapat tawaran untuk dimutasi ke Bali. Dimana itu adalah kota yang mempunyai kenangan buruk dalam hidup Galih.

Galih sempat bingung dalam menentukan pilihan, ditambah Ibunya pun tidak rela jika harus melepaskan Galih untuk pergi ke Bali. Takut hal buruk yang pernah terjadi dalam hidup anaknya terulang kembali. Namun, Galih seakan tidak memiliki pilihan lain jika ingin jabatannya naik. Pada akhirnya, Galih memutuskan untuk menerima tawaran itu.

Di Bali, dia bertemu dengan gadis bernama Roya. Roya adalah gadis yang sangat selebor, Roya juga tipe orang yang selalu menerima apapun perlakuan dari orang lain tanpa perlawanan apapun. Hal itulah yang membuat Roya selalu menerima bullying dari teman-teman di kantornya.

Tapi sikap Roya yang seperti itulah yang menarik perhatian Galih hingga membuatnya jatuh cinta, kehadiran Galih pun membuat perubahan yang cukup signifikan dalam hidup Roya. Seperti sudah menjadi takdir, ternyata tanpa disadari mereka memiliki hubungan erat dengan masa lalu masing-masing.

Roya memiliki seorang adik bernama Kanaya, adiknya menyimpan trauma masa kecil yang selalu menghantuinya. Roya selalu menganggap trauma yang dimiliki adiknya akibat dari tindakan bodoh Roya dimasa lalu. Hal itu membuat Roya selalu merasa bersalah terhadap Kanaya.

Setelah melewati banyak hal, Hubungan Roya dan Galih pun semakin dekat, mereka mulai mengakui ketertarikan satu sama lain. Hingga akhirnya memutuskan untuk menjalin hubungan, tentu saja hubungan mereka harus disembunyikan dari banyak orang, termasuk dari keluarga Roya.

Galih pun dengan sabar menunggu kesiapan Roya untuk mengungkapkan hubungan mereka kekeluarga Roya, hingga akhirnya Roya memberanikan diri untuk memberitahu keluarganya tentang hubungannya dengan Galih.

Namun saat hubungan mereka diketahui oleh keluarga Roya, semua hal manis yang pernah terjadi seketika berubah menjadi begitu pahit dan sulit untuk diterima. Sebab, masa lalu kelam Galih berhubungan dengan trauma yang dialami oleh Kanaya. Tentu hal itu menjadi batu sandungan dalam hubungan mereka. Lalu bagaimanakah akhir dari hubungan mereka? Kalau penasaran baca sendiri deh hehehe

Cerita yang mengangkat tema tentang masa lalu yang menghantui memang bukan hal yang baru. Sedikit banyaknya, pembaca sudah bisa memperkirakan apa yang akan terjadi pada Galih dan Roya. Hal yang membuat saya begitu menikmati novel ini adalah cara penulisan penulis yang halus dan cerita yang mengalir.

Galih dan Roya dekat dengan serangkaian kejadian-kejadian yang begitu natural disepanjang cerita. Cara penulisan dalam buku ini sendiri terasa puitis tapi tidak terlalu berlebihan. Setiap kata ditulis dengan begitu sederhana dan mudah dimengerti.

Dari novel ini saya belajar banyak hal, salah satunya adalah tentang masa lalu. Masa lalu adalah hal yang tidak pernah bisa kita hilangkan dalam hidup. Apa yang terjadi hari ini, ada kaitan erat dengan setiap hal di masa lalu.

Novel ini juga mengajarkan tentang menerima rasa sakit dalam hidup, bagaimana memaafkan diri sendiri atas segala kesalahan yang pernah diperbuat.

Mengapa diberi judul Purple prose? Mengutip dari yang sudah dituliskan oleh penulis di halaman 162.

“Purple Prose atau prosa ungu, semacam kalimat ungu yang lebih sering muncul didalam buku, biasanya sih novel. Kalimat yang boros kata, terlete-tele, rumit, dan seakan menarik perhatian untuk dirinya sendiri.

Misalnya kalimat, Hatiku sakit. Hatiku Luka, seperti tercabik-cabik oleh anjing jalanan. Dia mencintai perempuan itu, bagikan lebah yang tidak bisa hidup tanpa bunga.

Kutipan seperti itu bisa menghabiskan berlembar-lembar halaman untuk menggambarkan  perasaaan seseorang yang jatuh cinta atau terluka. Lembar demi lembar tidak mengembangkan plot dan karakter sama sekali. Deskripsi-deskripsi yang tidak perlu dan menghabiskan halaman. Tulisan seperti ini lah yang disebut dengan Purple Prose.

Itulah yang terjadi pada kita, Ya. Kamu sama seperti aku. sama-sama terjebak dengan kesalahan  masa lalu. Jika disamakan dengan buku, berlembar-lembar kisah kita hanya dipenuhi dangan purple prose, oleh penggambaran rasa sakit dan sesal atas peristiwa itu. kita terlalu terikat dengan kesalahan masa lalu.

Makna Purple Prose seolah menjadi suatu gambaran tentang hidup. Terkadang kita selalu sibuk dengan hal-hal yang itu-itu saja dalam hidup. Berkutat dengan rasa sedih dan kecewa padahal hal tersebut tidaklah membawa kita kedalam hal yang lebih baik. Malah membuat kita terjebak dengan berbagai prasangka yang belum tentu terjadi.

Membaca novel ini hingga akhir meninggalkan kesan yang sangat dalam bagi saya, bahkan hingga akhir cerita masih terus membuat saya membayangkan hal-hal yang terjadi pada Roya dan Galih seolah seperti nyata. Endingnya pun cukup realistis, tidak terlalu drama.

Jadi buat yang sedang mencari buku bacaan romantic yang menyedihkan, membahas tentang rahasia masa lalu. Maka, novel Purple Prose ini bisa menjadi pilihan bacaan buat kamu loh.

Beberapa kutipan-kutipan novel Purple Prose yang mungkin akan membuatmu semakin penasaran dengan novel ini :

“Jakarta memang menyelamatkan masa depannya, tapi tidak bisa melindunginya dari masa lalu. Dan masa depan yang damai tidak akan tercipta jika kita masih takut pada masa lalu”- Halaman 15

“Karena takdir bukan sesuatu yang bisa dijelaskan hanya dalam satu perdebatan. Sama halnya dengan kebenaran. Sejauh mana pun mereka memebicarakannya, tidak akan jelas siapa yang benar maupun siapa yang salah. Semua tergantung sudut pandang” – Halaman 31

“Karma itu seperti asap, ya. Dia akan selalu ada diudara, walau tidak terlihat. Ketika waktunya tiba, dia akan datang untuk menagih pertanggung jawaban”- halaman 289

“….aku pikir cara terbaik untuk menang atas masa lalu adalah dengan menghadapainya” – halaman 106

BACA JUGA : Review Film Dua Garis Biru, Kebebasan Juga Adalah Penjara. Setiap Pilihan Tidak Bebas Dari Setiap Konsekuensi

Sri Raditiningsih

Hanya Seseorang yang ingin mencoba membuat karya dan berbagi melalui sebuah tulisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Jika Kamu Tidak Siap Terjebak Friendzone, Jangan Lakukan Hal-Hal Berikut Ini

Sat Aug 10 , 2019
Jatuh cinta memang tidak mengenal siapa, dimana dan kapan. Bahkan, cinta bisa hadir dalam hubungan persahabatan. Sayangnya, kerap kali cinta yang hadir dalam persahabatan malah berujung dengan friendzone. Friendzone itu apasih? Friendzone adalah sebuah hubungan persahabatan lawan jenis yang berjalan sedemikian erat hingga bersifat platonic alias sulit untuk meningkat kearah […]