Sudah Terbukti! Cara Ini Diyakini Bakal dapat Memberantas Hoax dari Indonesia!

Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 17 Agustus 2019 Indonesia baru saja merayakan kemerdekaannya yang ke-74 tahun. Sebuah usia yang cukup matang dan tak bisa lagi dianggap belia untuk usia sebuah negara. Di usianya yang ke-74 ini, Indonesia juga akan memasuki babak baru pemerintahan karena telah terpilihnya Presiden dan Wakil Presiden baru yang bakal menahkodai Indonesia selama 5 tahun kedepan. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk untuk mendukung proses pembangunan dan kepemimpinan nasional 5 tahun yang akan datang. Hanya saja salahsatu cara yang menurut saya bisa dilakukan oleh semua kalangan adalah dengan cara memberantas hoax. 

Bagaimana Cara Membernatas Hoax?
Bagaimana Cara Membernatas Hoax?

Saya yakin bahwa kita semu sudah familiar dengan istilah hoax. Secara sederhana, hoax merupakan berita bohong yang dibuat untuk kepentingan atau motif tertentu. Hal ini senada dengan yang didefinisikan Oxford English Dictionary, bahwa ‘hoax’ merupakan ‘malicious deception’ atau ‘kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat’. Lantas kenapa sih kita semua harus memberantas hoax? Dan apa pula hubungannya dengan pembangunan dan kepemimpinan nasional 5 tahun yang akan datang?

Penyebaran hoax biasanya ini dilakukan oleh oknum-oknum tertentu melalui berbagaimacam media. Namun untuk saat ini, sarana paling efektif yang digunakan untuk menyebarkan hoax adalah sosial media. Hal ini didukung oleh survey yang dikeluarkan Masyarakat Telekomunikasi Indonesia (MASTEL) yang menyebutkan bahwa sosial media seperti facebook, instagram, ataupun twitter merupakan media penyebar hoax tertinggi yaitu 92.4%. Setelah itu diikuti oleh aplikasi chatting seperti Whattsap, telegram, dan line sebesar 62.8%. Survey ini dilakukan pada tahun 2017 lalu dengan melibatkan 1116 responden.

Lantas, apakah dengan fakta seperti itu kita harus menarik diri dari apa yang namanya sosial media? Tentu saja tidak. Dan itu bukanlah sebuah solusi. Dengan kita menarik diri dari media sosial, justru berita hoax malah akan berkeliaran dengan mudahnya dan tidak ada yang menandingi atau melawannya. Ngerinya lagi, jika berita hoax sudah beredar secara masif dan terus-menerus, kemudian jadi makanan sehari-hari masyarakat Indonesia. Maka akan banyak masyarakat Indonesia yang terpengaruh sehingga meyakini kebenaran berita yang sebenarnya itu tidak benar.

Data Pengguna Internet di Indonesia
Data Pengguna Internet di Indonesia (Sumber: databoks.katadata.co.id)

Para buzzer penyebar hoax ini bukan tanpa alasan kenapa memilih media sosial sebagai ladang untuk menjalankan aksinya. Hasil riset Wearesosial Hootsuite yang dirilis Januari 2019 menyebutkan bahwa pengguna media sosial di Indonesia mencapai 150 juta atau sebesar 56% dari total populasi yang ada. Sayangnya, tingginya pengguna media sosial di Indonesia tidak dibarengi dengan ilmu yang mumpuni, terutama dalam mendeteksi berita hoax. Survey DailySocial.id menyebutkan kalo 44.19% penduduk Indonesia tidak memiliki kepiawaian dalam mendetekai berita hoax. Survey ini dilakukan pada 20432 responden. Itu artinya, masyarakat Indonesia yang menggunakan media sosial sangat rentan sekali untuk mempercayai berita hoax begitu aja. Sehingga dengan jumlah sebesar itu, para oknum penyebar hoax tentunya gak mau menyia-nyiakan kesempatan itu dan akan menjadi sasaran yang empuk bagi para oknum penyebar hoax.

Baca juga: Kamu Harus Bersikap Bodo Amat!

Contoh nyata dari minimnya pengetahuan masyarakat Indonesia terkait kemampuan mendeteksi berita hoax ini bisa dilihat pada peristiwa beberapa tahun lalu ketika kontestan pemilihan kepala daerah dilaksanakan. Atau mungkin jangan jauh-jauh dulu deh, tapi coba kita berkaca pada peristiwa beberapa bulan kebelakang terkait berita-berita hoax yang muncul menjelang pengumuman hasil pemilu Presiden pada Mei 2019 lalu. Dikarenakan banyak berita hoax yang memprovokasi beredar melalui media sosial, akhirnya kerusuhan pada tanggal 22 Mei pun tidak bisa dihindari. Akibatnya 9 orang meninggal dunia gara-gara kerusuhan tersebut.

Setelah itu, pemerintah pun melalui Kominfo memutuskan untuk membatasi pergerakan beberapa media sosial untuk membatsi berita hoax yang muncul. Namun rupanya hal ini juga membawa kerugian bagi para pelaku bisnis online yang mengalami kerugian hingga triliunan rupiah. Belum lagi, aktivitas perekenomian di Jakarta yang harus lumpuh sejenak yang tentunya menyebabkan kerugian juga. Ditambah lagi kerugian-kerugian lain seperti fasilitas kepolisian yang rusak dan terbakar, rupiah yang melamah, dan dampak-dampak lainnya yang sangat merugikan. Disebabkan oleh apa itu semua? Hoax. Ya, begitu mengerikannya dampak dari hoax ini.

Dikarenakan masalah hoax ini bukanlah masalah yang sepele, maka dibutuhkan suatu cara yang tepat dan efektif untuk bisa memberantas hoax di negeri ini. Terlebih lagi survey Edelman Trust Barometer pada tahun 2018 menyebutkan bahwa 76-80% masyarakat Indonesia khawatir jika hoax akan dimanfaatkan oleh oknum-oknum tak bertanggungjawab sebagai senjata untuk menciftakan ketidakastabilan dalam negeri. Kemudian serial terbaru dari film televisi Amerika “Homeland Season 7” mengisyaratkan bahwa musuh utama negara untuk saat ini bukan lagi teroris bersenjata api, tapi sudah bergeser pada tindak terorisme bersenjata hoax. Isu kabar bohong dan juga disinformasi pada era digital ini telah menggeser persoalan terorisme, yang dulu selama bertahun-tahun menduduki posisi teratas dalam isu utama kestabilan dunia. Lalu cara seperti apa sebenernya yang mampu menghilangkan hoax ini hingga ke akar-akarnya?

Menurut saya pribadi, cara yang paling ampuh dan sudah terbukti bisa melawan sesuatu permasalahan yang besar di negeri ini adalah dengan kembali memperkuat nilai-nilai persatuan dan kesatuan. Apalagi saat ini suasananya masih dalam momen kemerdekaan. Mengapa harus dengan cara itu? Sebab melalui rasa persatuan dan kesatuan, masyarakat Indonesia tidak akan mudah terpecah belah dan akan sulit di adu domba hanya demi kepentingan segelintir orang.

Masih ingat mungkin dipikiran kita bagaimana para pendahulu kita pada zaman dulu bisa mengusir penjajah dari negeri ini, padahal kalo mau dibandingkan senjata kita hanya bambu runcing dan senjata penjajah jauh lebih canggih. Tapi kenapa kita bisa menang lawan merekaTentu saja karena nilai-nilai persatuan dan kesatuan pada saat itu sangat dijunjung tinggi. Masyarakat Indonesia pada saat itu sadar, seandainya mereka tidak mau bersatu dan perjuangan dilakukan secara terpisah, maka akan sulit untuk mengusir penjajah. Tapi karena mereka punya rasa ‘senasib dan sepenanggungan’, akhirnya mereka pun bersatu padu untuk sama-sama membuat para penjajah kocar-kacir dari negeri ini.

Kuatnya nilai persatuan dan kesatuan yang dulu dapat mengusir penjajah rasanya makin hari makin memudar. Padahal hal ini sangat penting untuk dimiliki oleh setiap masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, mulai saat ini perasaan itu penting sekali untuk dipupuk lagi. Jika dengan semangat itu penjajah saja dapat kita usir, maka saya rasa bukan hal yang sulit juga untuk memberantas hoax dari negeri ini dengan cara yang sama. Dengan cara seperti itu, maka pembangunan dan rencana-rencana strategis yang telah disusun oleh pemerintah untuk 5 tahun kedepan tidak akan terkendala lagi dengan hoax-hoax gak jelas yang hanya akan menghambat jalannya kepemimpinan nasional. Kita semua doakan, mudah-mudahan Presiden dan Wakil Presiden yang terpilih, beserta jajaran kabinetnya yang baru dapat mengemban amanah yang dititipkan oleh rakyat dengan sebaik-baiknya.

Irvan Daniansyah

Lagi belajar istiqomah untuk menulis. Semoga ada manfaatnya yaa :))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Kuliner yang wajib anda cicipi saat di Ngawi

Sun Aug 25 , 2019
Ngawi merupakan sebuah daerah di Jawa Timur bagian Barat, Ngawi merupakan sebuah nama kabupaten yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Grobogan, Kabupaten Sragen yang keduanya masih termasuk daerah Provinsi Jawa tengah Ngawi merupakan daerah yang bahasanya memiliki ciri khas tersendiri, bahasa disana terbilang ngapak, jadi jika anda berkunjung kesana jangan lupa […]