Inilah Rumus Sederhana Agar Akhlak Selalu Baik

Akhlak adalah cerminan dari kepribadian seseorang. Walaupun biasanya hal pertama yang dinilai seseorang terhadap orang yang baru pertama kali ditemuinya adalah penampilan. Tapi justru hal pertama yang harus selalu kita perbaiki setiap harinya itu adalah akhlak. Lho kenapa harus akhlak? Sebab percuma saja kalo penampilannya menarik, tapi dari segi akhlak sangat buruk.

Akhlak Mulia
Akhlak Mulia (Sumber: Khotbahjumat.com)

Misalnya aja nih ada seorang pemuda yang dari penampilan rapih, wajahnya tampan rupawan, bau parfumnya kemana-mana, tapi dia judes dan juga suka nyakar orang wkwk. Coba ngeri gak tuh haha. Tapi coba bandingkan dengan seorang kakek-kakek tua yang pakainnya pun lusuh, rambutnya berantakan, tapi punya akhlak yang mulia. Misalnya beliau selalu tersenyum riang saat membantu anak-anak yang kesulitan untuk menyebrang dipagi hari menjelang sekolah. Kira-kira kita semua lebih suka yang mana?

Baca juga: Cara Menjadi Bijak

Saya yakin semuanya akan menyukai si kakek tersebut. Walaupun dari segi casing si kakek mungkin kalah dari seorang pemuda yang berpenampilan rapih itu. Tapi karena akhlak si pemuda itu engga wajar, maka seketika penampilan itu menjadi gak ada artinya lagi. Semua orang akan merasa ilfill dengan sikapnya yang buruk tersebut.

Akhlak Itu Cermina Kepribadian
Akhlak Itu Cermina Kepribadian (Sumber: Maxmanroe.com)

Tulisan ini bukan berarti mengajak ataupun menganjurkan untuk tidak berpenampilan rapih dan menarik. Bukan, bukan seperti itu sama sekali. Tapi lewat tulisan ini hanya ingin coba berbagi bahwa ada hal lebih penting yang harus kita benar-benar perhatikan daripada ebatas penimpilan. Lantas bagaimana sebenarnya agar akhalk itu selalu baik? Apakah ada rumusnya?

Ternyata ada brader! Rumus ini gak seperti rumus fisika ataupun kalkulus sih. Terlihat simpel namun saya yakin dari segi pengamalan butuh effort yang tidak mudah. Jadi kalo kata Aa Gym, rumus agar akhlak kita itu selalu baik seperti ini:

“Jangan Lakukan Sesuatu Apapun yang Jika Orang Lain Melakukan Hal yang Sama Kepada Kita, Maka Kita pun Tidak Akan Menyukainya”

Ada yang udah nangkep? masih bingung?Atau justru malah gak ngerti sama sekali? Oke tenang… tenang… Insya Allah akan coba saya jelaskan yaaa.

Baca juga: Channel YouTube Inspirtif

Jadi begini, agar bisa mengusahakan akhlak kita selalu baik, maka kita harus pandai menempatkan posisi kita di posisi orang lain. Jadi saat kita akan melakukan sesuatu nih, misalnya aja ‘merencanakan’ untuk datang telat saat rapat. Coba deh tempatkan posisi kita berada di posisi orang lain yang menunggu. Bagaimana kira-kira perasaan kita? Apakah itu akang menghambat proses berlangsungnya rapat? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang bisa kita tanyakan ke dalam diri kita.

Contoh lainnya juga nih, misalnya kita bertemu dengan kawan lama. Kira-kira apa yang diharapkan oleh kita? Apakah teman itu yang nyapa kita duluan? Ataukah kita mau mebiarkan teman kita itu ‘ngabalieur’ (baca: memalingkan muka)? Ataukah seperti apa? Jika kita suka untuk disapa duluan oleh, maka coba lakukan hal tersebut kepada orang lain. Seperti itulah belajar melatih agar akhlak menjadi baik.

Mungkin agak sedikit sulit sih, tapi jika memang tekad kita bulat untuk memperbaiki akhlak tersebut, maka kita harus berlatih untuk mengusahakannya. Kita juga ;mungkin’ harus menurunkan sedikit ego. Tapi itu tak masalah karena disnalah letak seni nya. Coba deh kita belajar dari kerendahan hati Almarhum Eyang Habiebie. Dalam beberapa hari ke belakang, kisahnya cukup viral di media massa.

Pak habibie dan mahasiswa Asal Jerman
Pak habibie dan mahasiswa Asal Jerman (Sumber: Tribunnews.com)

Ya, kita semua tahu, bahwa Beliau adalah orang besar, pernah menjabat sebagai Presiden Republik Indonesi yang Ketiga, hak patennya sangat banyak, dan segudang prestasi lainnya. Apakah secara duniawi Beliau ‘berhak untuk sombong’ dan jaga image? Tentu saja bisa. Tapi Beliau tidak seperti itu. Saat Eyang Habibie bertemu dengan seorang mahasiswa asal Indonesia yang berkuliah di Jerman, justru Beliau lah yang menyapa mahasiswa tersebut duluan. Eyang Habibie juga tidak menolak saat diajak disuksi dan juga berfoto bareng. Ahh sungguh suatu cermin dan kepribadian dari akhlak yang mulia bukan?

Begitulah mungkin gambaran dari pengaplikasian rumus ini. Dan kita patut bangga, karena salahsatu tokoh bangsa negara kita lah yang mengajarkan hal tersebut secara langsung kepada masyarakatnya. Mudah-mudahan kita semua selalu ‘bermujahaddah’ untuk bisa memperbaiki akhlak ini. Jika kita tidak suka disakiti, maka janganlah menyakiti orang lain.

Jika kita tidak dibohongi oleh orang lain, maka jangan bohongi orang lain,

Jika kita suka untuk dihargai orang lain, maka hargailah orang lain.

Jika kita suka untuk perlakukan baik oleh orang lain, maka perlakukanah orang lain dengan baik.

Begitulah seterusnya!

Irvan Daniansyah

Lagi belajar istiqomah untuk menulis. Semoga ada manfaatnya yaa :))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

5 Tempat Nongkrong Hits di Samarinda

Wed Sep 18 , 2019
Samarinda merupakan Ibukota Provinsi Kalimantan Timur yang cukup banyak didatangi turis dari bermacam penjuru nusantara. Kota yang satu ini terletak di pinggiran Sungai Mahakam dan menyimpan banyak potensi kekayaan alam seperti tambang batu bara, minyak bumi dan lain-lain. Selain itu, sebagai salahsatu kota besar yang ada di Indonesia, beberap hal […]
Troef Coffee